Berawal dari seorang sodara nanya ke aku,"Ki, rencana Lo mau beli rumah dulu apa mobil dulu?" Ya langsung aja aku jawab," rumah dulu laaah...". Sodaraku balik nambahin,"udaaah..mobil dulu aja..rumah kan...bla bla bla bla bla".
Hahahay..kalo didebatin bisa jadi panjang tu obrolan. OK. Sebelumnya, aku mau berpendapat dulu kalo pandangan seseorang tentang gaya hidup, harga diri, pola pikir bergantung juga dengan latar belakang tu orang. Ini berarti berbeda-beda. Dan sayapuuun...punya pandangan sendiri.
Sodaraku itu dari kecilnya banget terbiasa hidup enak dan selalu digampangin. Apa-apa selalu difasilitasin orang tua. Meski kondisi finansial mereka lagi goyang sekalipun, tetep gak kelihatan secara kasat mata. *Sedangkan keluarga lain yang kondisinya lebih mantap ada aja yang membiasakan anaknya untuk lebih mandiri* it's not about comparing, it's fact. Atas dasar itu ya dengan gampangnya aja dia bilang "mobil". Ya sudah..itu pilihan dia. Cara yang diterapkan di keluarga dia dan keluargakupun aku yakin beda. Bahkan dia bilang, nikmati aja semua pemberian orang tua seperti rumah, mobil, dll ketika kita sudah menikah *sampai sekarang YBS belum menikah*
Dan ngomong2 soal rumah, kamipun pasti pengen punya rumah sendiri.Pengen banget. Tempat dimana aku dan suami juga anak-anak kami kelak tinggal. Dengan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang mereka. Gak mungkin selamanya seatap sama orang tua. Biarpun suami yang nafkahin, ikut berperan dalam hal-hal operasional, mau gak mau ada aja kan kontribusi orang tua? Pas makan di rumah ya makan bareng, pake alat rumah tangga ya pake yang di rumah ortu, de es be. De el el. Biar bagaimanapun misah itu much better kan?
Kapan misahnya?Aku belum bisa bilang disini sekarang. Tapi jujur aja, saat tiba waktunya aku pengen punya rumah sendiri .Yang mana rumah itu adalah hasil keringat, darah dan air mata dari kami sendiri. BUKAN hibah dari orang tua semata. Butuh waktu memang..ngumpulin budgetnya,nyari lokasinya, dan mental pastinya.
Ketika temen-temen maupun sodara yang baru beberapa tahun nikah bahkan belum nikah sudah punya rumah atas usaha mereka sendiri pastilah aku salut, angkat topi, dan mikir,"kapan ya giliran kami?" Tapi aku percaya, pasti akan tiba saatnya. Seperti juga saat seorang kakak sepupu cerita gimana sampe akhirnya dia tinggal di rumahnya yang sekarang bareng suami dan anak-anaknya, yang mungkin bagi sebagian orang itu cerita biasa tapi merupakan suatu pembelajaran buat aku.
Jadi, kakak sepupuku ini waktu baru nikah tinggal bareng ortu. Punya suami yang notabene sudah mantep kerjanya. Tapi memang kondisinya pada saat itu belum punya rumah. Ngontrak bukan pilihan yang diambil dengan alasan lebih baik uang kontrakan ditabung untuk beli rumah. Jadilah mereka tinggal bareng ortu yang kebetulan sama-sama tinggal di Jakarta. Berapa lama? Empat tahun. Yap, empat tahun berumah tangga sampe mereka bener-bener pindah ke rumah sendiri yang waktu itu sudah selesai direnovasi. Aku juga inget siy, waktu pindahan itu anak kedua mereka masih NB. Tapi memang ketika itulah saatnya tiba.
Terus-terus..yang sodaraku bilang tentang beli mobil? Hohoho..kalo aku pribadi sih masih bisa dan oke2 ajalah pake motor ke mana2..Aku, suami dan anakku gak bermasalah naek motordaripada minjem mobil orang. Fokus ke rumah duluan aja.Apalagi harganya naik terus ya boo....
Hahahay..kalo didebatin bisa jadi panjang tu obrolan. OK. Sebelumnya, aku mau berpendapat dulu kalo pandangan seseorang tentang gaya hidup, harga diri, pola pikir bergantung juga dengan latar belakang tu orang. Ini berarti berbeda-beda. Dan sayapuuun...punya pandangan sendiri.
Sodaraku itu dari kecilnya banget terbiasa hidup enak dan selalu digampangin. Apa-apa selalu difasilitasin orang tua. Meski kondisi finansial mereka lagi goyang sekalipun, tetep gak kelihatan secara kasat mata. *Sedangkan keluarga lain yang kondisinya lebih mantap ada aja yang membiasakan anaknya untuk lebih mandiri* it's not about comparing, it's fact. Atas dasar itu ya dengan gampangnya aja dia bilang "mobil". Ya sudah..itu pilihan dia. Cara yang diterapkan di keluarga dia dan keluargakupun aku yakin beda. Bahkan dia bilang, nikmati aja semua pemberian orang tua seperti rumah, mobil, dll ketika kita sudah menikah *sampai sekarang YBS belum menikah*
Dan ngomong2 soal rumah, kamipun pasti pengen punya rumah sendiri.Pengen banget. Tempat dimana aku dan suami juga anak-anak kami kelak tinggal. Dengan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang mereka. Gak mungkin selamanya seatap sama orang tua. Biarpun suami yang nafkahin, ikut berperan dalam hal-hal operasional, mau gak mau ada aja kan kontribusi orang tua? Pas makan di rumah ya makan bareng, pake alat rumah tangga ya pake yang di rumah ortu, de es be. De el el. Biar bagaimanapun misah itu much better kan?
Kapan misahnya?Aku belum bisa bilang disini sekarang. Tapi jujur aja, saat tiba waktunya aku pengen punya rumah sendiri .Yang mana rumah itu adalah hasil keringat, darah dan air mata dari kami sendiri. BUKAN hibah dari orang tua semata. Butuh waktu memang..ngumpulin budgetnya,nyari lokasinya, dan mental pastinya.
Ketika temen-temen maupun sodara yang baru beberapa tahun nikah bahkan belum nikah sudah punya rumah atas usaha mereka sendiri pastilah aku salut, angkat topi, dan mikir,"kapan ya giliran kami?" Tapi aku percaya, pasti akan tiba saatnya. Seperti juga saat seorang kakak sepupu cerita gimana sampe akhirnya dia tinggal di rumahnya yang sekarang bareng suami dan anak-anaknya, yang mungkin bagi sebagian orang itu cerita biasa tapi merupakan suatu pembelajaran buat aku.
Jadi, kakak sepupuku ini waktu baru nikah tinggal bareng ortu. Punya suami yang notabene sudah mantep kerjanya. Tapi memang kondisinya pada saat itu belum punya rumah. Ngontrak bukan pilihan yang diambil dengan alasan lebih baik uang kontrakan ditabung untuk beli rumah. Jadilah mereka tinggal bareng ortu yang kebetulan sama-sama tinggal di Jakarta. Berapa lama? Empat tahun. Yap, empat tahun berumah tangga sampe mereka bener-bener pindah ke rumah sendiri yang waktu itu sudah selesai direnovasi. Aku juga inget siy, waktu pindahan itu anak kedua mereka masih NB. Tapi memang ketika itulah saatnya tiba.
Terus-terus..yang sodaraku bilang tentang beli mobil? Hohoho..kalo aku pribadi sih masih bisa dan oke2 ajalah pake motor ke mana2..Aku, suami dan anakku gak bermasalah naek motor






0 comments:
Post a Comment